Minggu, 14 Juli 2019

#PUISI 5


TERJATOEH
Ku caci setiap jengkal kaki kala itu
Ku sesap hiruk manis sepotong donat ditanganku
Ku kibaskan lalu ku remas tanpa belas kasihan
Alangkah kejamnya waktu ku dulu

Semerawut wajah pendam terbawa angin sembilu
Menandakan waktu petang akan berlalu
Menangis sendu terbelengu dalam ikatan waktu
Merombak kenangan pilu kala itu

Khalayak ramai tengah geger menciptakan ilusi
Memainkan lisan manis tak bertulang
Santapan keji meruntuhkan segala angan
Para pembual kaya kedengkian

Terpaku dalam melodi hitam waktu
Terasa indah namun dingin membeku kala itu
Terjatoeh …
Tanpa ilmu tanpa kaki tanpa ambisi
Tanpa mimpi pula tujuan
hanyalah tumpukan sesal
yang tak bisa aku kembalikan

By: RA

#puisi 4


Who Never Give Up
  
Biarkan angin tertawa
Badai menghadang
Topan mencibir
Walau hujan menghujam
Petir menerkam
Percayalah,,,
Pejabat bisa jadi petani
Petani bisa jadi pejabat
Karna waktu
Yang bisa merubahnya
Asal raga tak pernah lelah
Tak pernah berhenti
Menyerah dengan waktu
Yang masih dalam dekapan
Maka rangkailah
Impian itu dalam untaian
Beriringan penuh warna
Tanpa pernah ragu
Biarkan mereka menjulurkan lidah api
Waktu yang akan menjawabnya
Ketekunan akan membekukan lidah-lidahnya
Setajam-tajamnya lisan
Pertajamlah usaha meraihnya
Karna waktu
Masih menjawab
Kamu pasti bisa

by: RA

#PUISI 3


Ku mencari di sepertiga malam
Saat lentera hidupku mulai meredup
Hatiku terasa tercabik-cabik, arrrgggh
Diantara gumpalan keresahan tak berujung
Melepas lelah segala angan semu

Di puncak rumah tak beratap itu
Bayangan masa depan penuh ketidakpastian
Dan acapkali menakutkan
Segala pengharapan,
Segala ambisi hidup
Mulai ku benahi,
Dan ku pautkan kepada sang pemiliki hati

Entah, Malam itu terasa sangat panjang
Ku lawan gejolak kenyaman,
Ku jajaki malam tak berbintang
Ku bisikkan telinga bunda ku
Sebagai penghantar izin ku

Disepertiga malam itu
kusebut nama-mu dengan lantang
sebelum fajar merekah menebar senyuman indah
dalam pengampunan, sirnakan segala ketakutan
dalam gerakan sekujur tubuh ku
Melatunkan pedoman hidup ku

Untuk-Nya sang pemagang kehidupan
Deru langkah itu sebagai pertanda
Aku yang dulu tak lagi sama
Dalam kebimbangan sia-sia

Kini Raga ini mengerti
Segala penantian apalah arti
Jika diri tak kunjung mendekati
Menjemput rahmat sang ilahi
 by: RA
5 november 2018

Bagaimana menerima diri

#RandomModeOn Hello guys, di blog kali ini aku mau cerita random aja sih. Awakard ……   Anggap aja ini aku mau berbagi rahasia ya. X:...